Senin, 02 Juni 2014

AMIS




ceritanya yang satu ini mau numpang promote di blog ane :p
penulis : "alwan" https://www.facebook.com/all.wan.18?ref=ts&fref=ts


KROOMMPYAAAANGGGG!!!!!...................
Sekali lagi dalam bulan ini, suara dan benturan kotak dari seng tipis ini terlempar dari meja seorang anak, membentur dinding berwarna merah muda pastel yang didominasi oleh stiker bercorak kartun dari nickledeon, Spongebob Squrepants. Entah kenapa, ini sudah yang ketiga kalinya dia melakukan hal yang sama di Juni ini -anak kecil yang kini baru masuk di sekolah dasar di kelas 3 di tahun ajaran baru ini- sudah yang ketiga kalinya, aku yang diam anteng di dalam kotak itupun ikut terlempar jauh ke pojok rumah. Masih terkejut dengan apa yang terjadi, aku diam, melihat sekeliling mencari teman-temanku yang lain, mereka bisa saja terlempar ke tempat yang lebih jauh dari tempatku. Di tempat dimana mata teduh dari wanita cantik itu tidak dapat  melihatnya. Entahhh....
“Ciiii, kenapa lagi?” terdengar teriakan yang cukup keras namun tetap terdengar merdu karena suaranya yang memang lemah lembut itu dari arah dapur. Aku dapat mendengar derap kakinya yang dengan cepat melangkah dari dapur menuju ruangan ini. Benar saja, dari pojokan ini aku dapat melihat dengan jelas  kini wanita cantik dengan bergo abu-abu dengan mata teduh itu sudah berada di pintu kamar, wanita itu menatap dia yang terlihat murung seperti hari-hari biasanya, “ada apa lagi Ci?” tanya wanita itu dengan nada lembut yang seolah ingin tau kenapa anaknya melakukan hal itu lagi, hal yang sudah dilakukan untuk ke tiga kalinya dalam pada minggu ini di setiap pagi. Dia tidak menjawab, aku liat anak itu mulai menunduk, anak pendiam itu langsung menghampiri wanita itu, berdiri di depannya, wanita itu menurunkan tubuhnya perlahan, berjongkok agar posisinya sama rata dengan Cici, wanita itu menatap Cici dengan penuh makna, seolah ingin mengerti apa yang ia rasakan, dan dapat membantunya melewati itu.
.....Diam....
Beberapa saat waktu seperti berhenti, aku dapat melihat dengan jelas wanita itu memeluk Cici, merangkul dan mendekatkan wajah polos Cici ke pundaknya.
“Hari ini aku gak mau sekolah ma!” Cici berbicara, well, aku sudah dapat menebak apa yang akan ia katakan, dan aku rasa wanita itu juga sudah menduganya, yeah, I, no, we guess it..... ini adalah minggu kedua dibulan ini, dan apa yang terjadi di hari itu pada Cici masih misteri bagi mamanya bagaimana Cici melakukan hal itu. Wanita yang sejak aku berada disini, aku tahu dia merawat Cici sendirian. Tapi apa yang terjadi pada Cici saat kejadian itu berlangsung, aku sudah tahu. Karena akulah yang berada disana, yang melakukan itu. Akulah pelakuny, Cici tidak salah sama sekali, Aku.... Akulah itu.
Akulah yang menemaninya setiap hari, ya setidaknya diruangan yang penuh dengan anak-anak berisik dan selalu tertawa dengan keras tanpa tahu kerasnya kehidupan itu, hingga terjadi insiden ini. Insiden yang membuat Cici menjadi seperti sekarang ini-tidak mau pergi ke sekolah dan bermain dengan temannya. Akulah yang menemaninya dikala dia tidak bersama wanita yang dipanggilnya mama itu.
“Kenapa lagi Ci? Bukannya kamu sudah janji untuk masuk sekolah hari ini”, wanita itu meyakinkan Cici akan janji yang dibuatnya kemarin setelah membelikannya sebatang ice cream coklat kesukaanya “kan sudah mama belikan ice cream kemarin”.
“Tapi ma...” Cici menghentikan kalimatnya sejenak, seperti berpikir. “Cici...” dia menghentikannya lagi, aku yang hanya melihat dan mendengarnya dari pojok ruangan merasa penasaran juga kenapa dengan Cici, yahhh.. walaupun alasanya tetap saja bisa aku tebak.
“Kenapa Ci? Masalah itu sudah selesai, kamu gak perlu takut pergi ke sekolah lagi kan?” Wanita itu bertanya dengan menatap mata Cici dalam. “ya?” dia menambahkan.
“Tapi ma.....” Cici kekeuh terhadap kalimatnya untuk tetap tidak bersekolah lagi hari ini
“Kamu harus sekolah!” mamanya langsung memotong kalimat Cici, melakukan penekanan pada kata harus, aku tahu dia mulai merasa harus bersikap tegas pada anaknya, dia tidak bisa memanjakan Cici lebih lama lagi -anak semata wayangnya- terus-menerus, atau Cici akan terus berlarut dalam penyesalannya. Cici harus dapat mengatasi masalah ini secepatnya. Anak kecil ini sudah lebih dari sepuluh hari tidak pergi ke sekolah. Dan kali ini, mamanya sedikit memaksa melalui kata-katanya. “katanya mau jadi anak pinter, jadi harus rajin sekolah ya!”.
“Tapi ma, Niken pasti benci sama Cici”
“Tidak akan Ci, tidak akan” mamanya mencoba menenangkan Cici, agar perasaaannya tetap tenang, karena dia tahu bahwa anaknya sangat menyesali perbuatannya itu.
“Teruss....”. Sambil terisak tangisan Cici melanjutkan kalimatnya “Anak-anak pasti tidak mau berteman dengan Cici lagi?”, Cici menambahkan “Bu Ani juga pasti akan menghukum Cici nanti di kelas”.
“Tidak akan sayang”.  Mamanya menjawab tiga pertanyaan dengan jawaban yang sama. Dan menurutku, itu jawaban paling masuk akal untuk menenangkan hati seorang anak yang dirundung penyesalan.  Aku tahu J , dia memang mama paling bijak sedunia, aku tetap saja terpaku pada mereka, mama Cici masi belum melepaskan pelukan anaknya yang terlihat semakin erat. Entah, aku merasa ini adalah sebuah drama panjang yang mengenyuhkan hati, wait, apa aku punya hati, entahlah, akupun tidak tahu, aku tertawa memikirkan pernyataanku sendiri, haha. “Mereka tidak akan membenci kamu, kamu kan sudah minta maaf sama Niken di rumah sakit waktu itu” mamanya tetap mencoba menenangkan hati anaknya, dari mata Cici, walaupun tidak terlihat jelas, aku bisa merasakan bahwa di pipinya air mata mulai menetes perlahan.
“Tapi ma.....” hiks hiks, tangisnya mulai terdegar agak keras.
“Gapapa sayang” , aku sungguh menyukai wanita yang dipanggil Cici dengan sebutan mama ini, mata teduhnya, senyumannya yang manis, dan caranya berbicara kepada anaknya, tapi aku bisa apa, aku hanya bisa menatapnya dari pojokan sini, “Allah saja maha pemaaf, jadi teman-teman kamu dan Niken pastinya juga akan memaafkan kamu, ya kan?”, mamanya mengucapkan itu dengan keyakinan sambil tersenyum, aku yang melihatnya dari jauh saja bisa jadi setenang ini, aku yakin begitupun Cici.

------2 minggu lalu------
Teng Teng Teng.............
*Bel Berbunyi tanda istirahat dimulai           
Seperti keadaan kelas anak-anak pada umumnya, di jam istirahatpun anak-anak tetap saja ada yang di kelas. Para murid asik dengan aktivitasnya sendiri. Ada yang mengobrol dengan teman sebangkunya, memakan bekalnya ataupun mencoret-coret kertas bagian belakang buku mereka dengan gambar yang menurut mereka bagus padahal terlihat absurd, aku tertawa saja melihatnya. Cici mengangkatku dari kotak seng tipis itu, memegang dan kemudian mendekatkan ujungku pada kertas bukunya, aku mulai merasakan dia menyentuhkan ujung tubuhku ke kertas itu, menggoyang-goyangkanku, aku dapat merasakan apa yang dia lakukan, aku merasa geli atas kelakuannya itu, tubuhku berdesir, tersenyum.
Apa yang dia lakukan dengan tubuhku ini?
Dia menulis dua nama, namanya sendiri dibagian atas dan nama wanita yang dipanggilnya mama, Santi, dibagian bawah namanya dengan dipisahkan sebuah simbol hati yang sudah menjadi simbol cinta di dunia ini. Aku hanya tersenyum saja merasakan itu. “dasar Anak-anak” pikirku.
            “Cici anak haram... Cici anak haram....” tiba-tiba, terdengar suara anak perempuan lainnya dari bangku belakang, tepat di belakang meja Cici, suara yang aku hafal siapa pemiliknya itu, Niken. Anak perempuan yang selalu mengganggu Cici tiap harinya di kelas ini. “Cici anak haram” Niken mengulang kalimatnya itu untuk ketiga kalinya dengan nada mengejek. Aku yang berada di genggaman Cici merasakan bahwa Cici mulai berhenti melakukan aktifitasnya, dia terdiam, aku tegang. Aku rasakan dia menahan tangisya agar tidak bersuara, yahh, seperti inilah dia, hanya diam saat Niken mengejeknya. Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh, aku merasa Cici tidak akan diam hari ini. Benar saja, tiba-tiba dia meletakkanku di atas mejanya. Memutar badan dan kepalanya ke belakang dan menghadap Niken langsung.
            “Aku bukan anak haram”, dia mengucapkannya dengan suara parau dan pelan.
            “Apaaa?”, Niken tidak mendengarnya atau hanya pura-pura tidak mendengarnya.
“Aku bukan anak HARAM” Cici mengulang kalimatnya dengan sedikit memberi penekanan agar terdengar meyakinkan, namun kali ini dengan cukup lantang dan keras, sehingga anak-anak di kelas ini, aku yakin mereka mendengarnya.
“Ha, apaa?” Niken tetap saja tidak mendengarnya, sekarang aku yakin satu hal, dia bukan tidak dengar tapi lebih tepatnya, budek, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri dan kanan -andai aku punya kepala yang dapat bergerak tentunya.
Tiba-tiba, dengan sangat cepat dan tanpa aba-aba. Aku melihatnya, tangan niken menarik rambut di kepala Cici, aku terkejut tidak bisa berkata, ingin teriak sekeras-kerasnya “Jangannnn” tapi apa daya, aku tidak bisa apa-apa dan hanya bisa melihatnya saja dari sini, “maafkan aku Ci, aku tidak bisa membantu” lirihku pelan. Niken semakin menjadi, dia menarik kepala Cici dan menekannya ke meja tulis di depannya. Cici melawan, namun dia tidak berdaya melawan badan tambul Niken yang lebih besar darinya. Aku ingin sekali berdiri dan berjalan ke arah Niken dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Cici saat ini.
            “Jangan Ken, sakit...” teriak Cici meronta-meronta dengan mencoba melepaskan tangan kasar niken dari kepalanya, namun Niken tetap saja melakukannya, dia tersenyum sinis, aku bisa melihat senyum itu, senyum seorang yang menikmati tindakan kekerasannya. “Lepaskan Ken”, Cici yang tidak bisa melawan menggerak-gerakkan tangan kirinya ke meja tulisnya, meraba-raba untuk mengambil sesuatu. “disini Ci, Disini!” teriakku, dugh dugh dugh, aku mendengar tangannya membentur meja “disini!!!” aku berteriak, benar saja dia menyentuh dan kemudian mengenggamku, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaanku. Sinngggg, waktu seperti bergerak pelan, semuanya seakan bergerak lambat buatku, Cici mengayunkanku, kemudian,
......SLASHHH....
“aku tidak mengerti apa yang telah terjadi,
tapi aku merasa senang melihat Niken kesakitan”
 aku merasa ujung tubuhku menusuk sesuatu, aku melihat cairan berwarna merah disana, menutupi permukaan bagian bawahku. Aku sempat bergidik sendiri melihatnya, aku tau benda cair apa itu, merah dan amis yang manusia sebut sebagai, darah.
“Uuuaarrrrggg” niken berteriak, tangannya melepaskan kepala Cici dan langsung menutup matanya. “Uaarrgghh.... akhhhh” dia berteriak histeris,”akkkkhhh, sakiitttt....” Erangannya sangat panjang, aku yakin para gurupun akan mendengar teriakannya yang memekakkan telinga itu. Aku tertawa mendengar teriakan Niken yang seperti mendapat sakit luar biasa itu. Cici yang terkejut melihat tindakannya sendiri, spontan menjatuhkanku di atas meja, dia menatap kaku tangan Niken yang menutup wajahnya. Aku tergolek di meja, diam sekaligus senang melihat Niken yang akhirnya mendapat balasan dari apa yang dilakukannya selama ini pada Cici.
 Tiba-tiba aku mendengar beberapa orang masuk kedalam kelas, Benar saja, para guru. Aku melihatnya, bu Ani-wali kelas Cici dan beberapa guru lain.”bedhe apa? Bedhe apa?”, bu Ani langsung langsung bertanya ada anak-anak yang melihat kejadian itu dengan pertanyaan yang tentu saja ngeri untuk dijawab. Beberapa dari mereka mencoba membawa Niken keluar dan bu Ani mencoba menenangkan Cici dengan beberapa kalimatnya. Aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dia katakan karena tangan seseorang tiba-tiba menyentuhku dan melap ujung tubuhku yang dihiasi darah dengan kain, kemudian tangan itu menaruhku di kotak seng milik Cici, tiba-tiba bagian atas kotak itu metutup, aku tidak dapat mendengar suara apapun, kecuali suara bising. semuanya menjadi gelap, hitam dan pekat. Aku terdiam (lagi).
-----------
“Jadi hari ini Cici sekolah ya!” wanita bermata teduh itu melanjutkan kalimatnya
“Ma, tapi temenin ya!” pinta Cici, “mama temenin Cici ke sekolah, tunggu aja di luar kelas, ya?” sambungnya. “pokoknya temenin”
Mamanya sejenak menatap anak semata wayangnya itu, jika apa yang aku pikirkan benar, maka jawaban Santi akan sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi jawabannya adalah, “Iya Ci”, Santi menjawab sambil menata wajah anaknya dalam. Aku tidak menyangka hari ini Mamanya meng-iyakan, tidak seperti hari-hari sebelumnya, biasanya dia menolak dengan alasan akan pergi bekerja. Tapi hari ini, aku pikir dia sadar bahwa anaknya sangat membutuhkannya lebih daripada pekerjaannya, “nanti mama anter dan jagain Cici sampe pulang sekolah, oke?”, lanjut mamanya. Aku liat Cici tersenyum, akupun tersenyum. J
Perlahan, aku melihat wanita itu menatap ke penjuru ruangan, “yeah, it is our time” pikirku, “aku di sini San” ,aku berteriak. Dia mencari-cari kami, para pengisi kotak seng Cici, dia berdiri dan berjalan ke arah dinding, dia mengangkat dua temanku, “hei, aku disini, disini” teriakku, namun dia seperti tidak mendengarnya dan melanjutkan mengambil kotak seng Cici yang ada di seberang sana. Memasukkan ke dua temanku itu ke dalamnya, dan meletakkan kotak seng itu ke dalam tas Cici.
“hei, aku disini, di pojok sini!!!” teriakku, dia menatap ke sini “iya, disini”. Dia mendekat, benar, dia mendekat, aku senang. “yeah, terimakasih San”. Dia mengangkatku, menggengamnya di tangan halus itu. Namun yang terjadi, dia tetap menggenggamku, tidak memasukkan ke rumah kotak itu. “hei San, apa-apaan ini!”.
“Bentar ya Ci, mama ke dapur dulu”, dia sambil tetap membawaku di tangannya. Berjalan ke dapur menuju arah kulkas, di sebelah kulkas terdapat tong yang berisi setengah penuh, mulai dari plastik, sisa sayur hingga bungkus mie instant yang tersobek tidak karuan, dia mengangkatku keatas, melihatku, “kenapa San? Ada apa?” selidikku penuh tanya. “Jangan lakukan itu, please!”, pintaku. Tapi dia memang tidak dapat mendengar dan mengerti aku, sejurus kemudian benar saja apa yang kutakutkan, dia melemparku ke tong yang berada di sebelah kulkas. Aku terkulai lemas, tak percaya apa yang telah terjadi disini. Dia membuangku ditempat kotor ini bersama para sampah lainnya yang bau.
Amis, aku tahu bau apa itu? Bau terkutuk yang manusia benci
 by : si Marmut yang gak imut

Sabtu, 31 Mei 2014

GENERASI MENUNDUK



Entah sejak kapan trend yang satu ini dimulai
mulai dari bocah sampai manula semuanya hobby menundukkan kepala
entah itu ditempat-tempat umum seperti mall, caffe, disekolahan, kampus, bahkan dijalan-jalan. Juga ditempat-tempat sepi seperti toilet, atau bahkan kuburan.
Contohnya dikampus tempat gue menimba ilmu, teman-teman sejawat seperjuangan
setibanya dikelas so pasti langsung cari tempat duduk yang sekiranya nyaman dan strategis untuk mulai menundukkan kepala saat dengan atau tanpa adanya dosen didepan kelas.
entah dosen telah menjelaskan materi kuliah dari sabang sampai merauke ataukah masih muter-muter disabang karena gak tau jalan pulang. Siapa perduli ... generasi menunduk masi tetapkonsisten dengan kebiasaan membudaya yaitu menundukkan kepala.
Dimall-mall, caffe, sekolahan, dan yang lebih parahnya lagi dijalan-jalan diatas motor bahkan ketika sedang menyetir mobil.
Sering gue memperhatikan generasi-generasi jaman sekarang, dengan kebiasaan yang seperti itu, bahkan sambil jalanpun masih tetap dengan keseriuasan kebiasaan menunduknya,
bukan menunduk karena memfokuskan diri untuk memperhatikan jalanan yang sedang ia lewati atau sedang mencari uang recehan yang sekiranya jatuh dijalan, tapi tidak lain dan tidak bukan yaitu karena fokus terpaku dengan gadget yang sedang ia pegang.
well ....
lo pasti sering juga kan melihat tragedi yang seperti ini dimana-mana?
padahal dengan sekedar menunda membalas chat atau pesan singkat digadget lo, dan terlebih dahulu memfokuskan pada kegiatan yang seharusnya lo proritaskan terlebih dahulu tidak rugi bukan?
yang pasti malah akan menambah keselamatan lo, entah itu keselamatan dalam berjalan ditempat umum, atau bahkan keselamatan jiwa lo karena akan dihadapkan dengan amarah dosen killer yang lo abaikan diikelas.
kan gak lucu banget kalo misalkan lo tiba-tiba diopname dirumah sakit dan teman-teman lo menjenguk dengan segala perhatiannya bertanya ke elo “kok bisa begini? Gimana ceritanya?”
dan kamupun menjawab “gara-gara ketabrak becak waktu gue lagi serius-seriusnya bales BBM dari lo” atau “gara-gara digebukin emak-emak gara-gara gue asyik BBM-an dan gak sengaja salah masuk toilet”
sumpah ini bikin muka mendadak kaku keheranan, kalo gue jadi temen lo otomatis gue bakalan bilang “maaf sepertinya gue salah kamar, kayaknya lo bukan temen gue deh” *emmm.... ini agak berlebihan sih*


Nah .... itu kalo ditempat umum
ada juga generasi menunduk yang suka terus menerus tetap konsisten pada kebiasaan menunduknya ditempat-tempat seperti toilet,
well ... sampai-sampai itu gadget masuk kedalem kloset dan ..... oh men ! gak usah dterusin mendingan, karena gue perduli dengan kesehatan lo agar lo tetap nafsu makan nantinya.
dan yang lebih mengherankan lagi yang sepert ini tetap bisa gue temui ditempat sakral macam KUBURAN !!!! gue ulangi lagi KUBURAN !!!! ..... 
ya gue pernah menyaksikan sendiri salah satu generasi menunduk yg seperti ini, bisa dibilang sering, karna kebetulan rumah embah gue dibelakang kuburan, jadi otomatis gue suka memperhatikan aja, siapa-siapa saja yang sering lewat sana kalo kebetulan gue lagi main-main kerumah beliau.
so... kalo menurut gue etikanya sewaktu kita hendak melewat tempat sakral macam kuburan kan sebaiknya berdo'a, mengucap salam kepada mereka-mereka yang telah terdahulu berpulang, dan berjalan menunduk untuk sekedar menghormati. bukannya malah cengengesan dengan gadget lo !
lo gak takut pas lo lagi asik-asik nunduk, ehhh tiba-tiba ada yang nowel-nowel punggung lo minta pin,
dan ternyata pas lo nengok,,, ternyata...... itu .............. penjaga kuburan ! gak usah parno gitu juga kali.
kan  gak funky banget kalo elo punya kontak tukang gali kubur, yang setiap hari kerjaannya ngechat “mbak/mas .. kapan mau pesen tanah 2x1 nya ?” oh my dog !! *missuh”*
Oke deh .... itu sih hak kalian yah .. mau terus-terusan menunduk kek atau menengadahkan kepala keatas kek, itu sama sekali bukan urusan dan gak ada sangkut pautnya sama gue.
cuman satu aja pesen gue, jadilah generasi yang akan tetap selalu membanggakan, berprestasi, berguna, buat diri lo sendri dan juga orang-orang yang lo sayang terutama orang tua lo juga bangsa dan negara kita terciintah ......

contoh real tanpa unsur kesengajaan ....
cekidot !!

ketika yang lain sedang asiik"nya narsis yang satu ini tetap fokus tertunduk












dan yang satu ini lebih mirip dzikiran ....













haha oke bye !!

SORRY I LOVE YOU



*praaaaakkkk* terdengar bunyi handphone yang sengaja dibanting.
“lo kenapa cha ?” buru-buru vico menghampiri ocha yang duduk terpaku dilantai dengan mata berkaca-kaca
“gue diputusin lagi co sama leo, sebenernya apa sih mau dia ? apa sih salah gue ? selalu dia kayak giniin gue, gue capeeeee !” ocha menjawab dengan air mata yang mulai berlinang
tanpa menjawab kekalutan ocha, vico  pun langsung memeluknya dengan erat, penuh empati dengan luka yang lebih dalam dari pada yang ocha rasakan saat ini.
Vico adalah sahabat ocha dari kecil semenjak orang tua vico meninggal karena sebuah kecelakaan tragis sewaktu vico baru berusia 8 tahun
 dari sanalah vico mulai tinggal dengan oma dan opanya yang kebetulan bertetangga dengan ocha
dan dari sanalah mereka bertemu dan mulai akrab lalu bersahabat sampai sekarang.
persahabatan mereka sebegitu eratnya sampai mengalahkan ikatan persaudaraan sekalipun
*plaaaaaakkkkk* *plaaaaaakkk* dua kali terdengar suara tamparan
“gimana rasanya ? enak ? mau lagi ? masih kuat kok tangan gue, buat bunuh lo sekalipun !” vico dengan gelagat tomboynya mendatangi leo yang kebetulan sedang duduk disebuah caffe bersama  seorang wanita
“anj*ng !! elo lagi ! kalo bukan cewe gue gebugin lo sampe mamp*s sekarang juga ! cuiih ... pergi lo!” bentak leo dengan begitu marahnya
“eh... yang seharusnya pergi itu elo ! pergi lo dari hidup ocha ! jangan pernah lo tampakin tampang lo lagi ! atau gue bunuh lo ! liat aja lo ! “ *syuuurr* dengan nada tingginya vico gak kalah lantang sambil menumpahkan minuman diwajah leo yang memang bisa dibilang tampan dengan paras blasteran.
sambil bergegas pergi dan meninggalkan leo yang tercengang karna sikap vico yang mempermalukannya didepan umum seperti itu
Seiring dengan berjalannya waktu ocha semakin tegar dan mulai berusaha untuk move on dari leo
semuanya semakin berubah menjadi lebih baik semenjak ocha bertemu dengan sosok baru yang datang dalam kehidupannya.
dia bernama anton salah satu pegawai bank swasta yang tidak sengaja bertemu dengan ocha karna kesalah fahaman kecil disebuah supermarket beberapa waktu silam.
ketampanan dan kedewasaan serta keramahan anton yang semakin memikat hati ocha yang sedang menikmati indahnya jatuh cinta membuat  vico benar-benar tidak menyukainya  bagaikan menyayat melukakan sebuah kekecewaan dalam.
vico pun tidak tahu harus berbuat apa, disaat dia seharusnya ikut ersenyum bahagia karna sebuah kebahagaan kembali berpihak pada sahabat terbaiknya, namun yang ada situasi malah memutar balikkannya.
“elo yakin cha sama si anton-anton itu?” tanya vico dengan nada sinis
“yakin dong co ... yakin banget malah !! kenapa emangnya ?” jawab ocha
“emmm... gak apa-apa sih, cuman gue gak suka aja sama dia ... kayaknya kalo menurut gue si gak baik aja buat lo cha “ vico menjawab dengan nada santainya
“gak baik? Maksud lo? Lo tau dari mana kalo anton gak baik buat gue ? elo kenal dia aja enggak ! “
“kok lo jadi marah sih cha ? gue kan Cuma berpendapat. Salah?”
“gue gak marah vico, gue Cuma gak seneng aja sama penilaian elo ke orang yang bahkan enggak lo kenal dan tau”
“itu kan menurut feeling gue aja cha” vico mulai merasa bersalah
“sekarang gue tanya .. emang cowo yang baik buat gue menurut elo itu yang seharusnya kayak gimana ? hah?”
tanpa menjawab pertanyaan ocha, vico langsung beranjak keluar dari kamar ocha dan langsung mengendarai mobilnya pergi entah kemana, yang semakin membuat ocha merasa kebingungan dengan sikap sahabatnya yang mendadak aneh seperti itu.
“permisi mbak ... boleh numpang tanya”
“iya mbak ... ada yang bisa saya bantu? “ jawab salah satu pegawai bank swasta ternama yang didatangi oleh vico siang itu
“bisa bertemu dengan anton ? dia salah satu pegawai di bank ini”
“emm..... mungkin yang mbak maksud anton hendri handoko?”
“emmm... i iya itu mbak” dengan sedikit perasaan ragu vico menjawab karena ingin menemui anton yang sama sekali belum pernah ia temui
“kebetulan bapak antonnya sedang istirahat makan siang dikantin sebelah sana mbak” dengan menunjuk sebuah kantin yang ramai pengunjung tidak jauh dari lokasi bank
“ohh baiklah kalau begitu, termakasih ya mbak “ vico langsung bergegas pergi menuju kantin tempat anton sedang beristirahat makan siang
“untung gue udah liat foto si anton berkali-kali jadi gue gak bakalan mungkin salah orang kalo ketemu” gumam vico dengan begitu yakin
saat memasuki pintu kantin vico melihat kantin dengan begitu banyak pengunjung, disana-sini, ada yang sedang duduk bersama pacar, teman-teman kantor dan ...
“nah ... itu pasti si anton” vico melihat seorang pria berparas tampan bertubuh tegap dan terlihat begitu keren sedang duduk sendiri dengan makan siangnya di meja kantin paling pojok yang sedang asyik dengan gadgetnya
tanpa ragu vico menghampiri anton yang saat itu sedang cengengesan sambil memfokuskan diri pada gadget.
“sorry .... anton bukan?” tanya vico dengan penuh percaya diri
“iyaa ... siapa ya ? kita pernah kenal?” jawab anton dengan nada bingungnya
“emm ... belum sih ! kenalin gue vico, gue temennya ocha” vico mengulurkan tangannya dan mulai duduk satu meja dengan anton
“anton .. “ anton hanya membalas dengan senyuman kebingungan “ maaf ... ada perlu apa yah dengan saya?”
“oke .. tothepoint aja yah ! gue minta lo buat jauhin ocha mulai dari sekarang ! got it ?” dengan nada santai vico menjelaskan maksud kedatangannya
“loh ... kenapa memangnya ? lagian apa urusannya sama kamu?” tanya anton yang semakin bingung
“lo gak usah tanya kenapa dan apalah ... yang jelas gue gak mau lagi liat lo masih ngedeketin temen gue ocha ! camkan ! atau gak lo bakalan lihat apa yang akan gue lakuin nanti !” dengan nada tinggi tanpa memperdulikan apapun vico mengancam anton yang telah nampak geram dengan sikap vico yang sangat aneh, dan langsung bergegas pergi .
                                                                                                ***

*plaaaaakkk* tangan ocha yang dengan entengnya mendrat di pipi kanan vico
“maksud lo apa sih ? ngedatengin tempat kerja anton dan bilang kayak gitu? Lo pikir lo siapa berhak ngatur hidup gue ? dan .. gue sama sekali gak ngerti sama semua sikap lo ahir-ahir ini, lo kenapa sih ? apa sih mau lo co?” dengan perasaan marah yang tidak mampu lagi terbendung ocha meluapkan semua emosinya
“gue Cuma pengen elo bahagia cha ? salah ?” jawab vico dengan tidak kalah lantang
“elo masih tanya elo salah apa enggak ? ya jelas elo salah vico ! emangnya kebahagiaan jenis apa yang lo mau buat gue ? kebahagiaan saat gue terus-terusan nangis terpuruk karena cowo bangs*t itu? Iyaa? Dan apa lo kira gue gak tau sama apa yang udah lo lakuin ke leo sewaktu habis mutusin gue? Dia cerita dan maki-maki gue co ! lo tau gak gimana rasanya abis diputusin terus dimaki-maki? Sakit co ... “ jawab vico sambil meneteskan air mata dan langsung diusapnya
“gue ngelakuin itu semua demi elo cha”
“demi gue ? oke gue hargain semua kepedulian elo sebagai sahabat gue co ! tapi please ... gue mohon co , biarin sekali aja, biarin gue bahagia sama laki-laki pilhan gue ... ngerti?” vico menjawab dengan nada yang mulai menurun dan terduduk didepan vico yang sedang berdiri terpaku.
*keheningan menyelmuti ruangan*
“biarin gue memilih sendiri pilihan gue co? Bisa kan?” ocha memulai pembicaraan dengan nada yang mula lembut dan masi dengan posisi tertunduk diatas lantai
“enggak !” dengan nada datar dan pasti vico menjawab
ocha tersentak kebingungan dan berdiri mentap vico dalam
“kenapa ? apa maksud elo dengan jawab enggak? hah? Lo lebih seneng kalo gue terpuruk ? iya ? lo bahagia ya kalo gue menderita co ? jawab ! ” kata-kata ocha yang semakin emosi dan semakin tidak enak didengar telinga vico “ohhh atauu lo seneng kalo gue gak punya pasangan biar sama kayak lo gituh ?”
“gue cinta sama lo ! puas ???” teriak vico kepada ocha
“hah? Cinta? Maksud lo?” jawab ocha dengan perasaan tak percaya, adakah yang salah dengan sahabatnya itu ? fikir ocha
“iya ! semakin gue menyayangi elo semakin gue hilang kendali sama perasaan gue sendiri, gue sempet marah, tertekan, kenapa gue harus punya perasaan kayak gini sama lo ... ini diluar batas kemampuan gu cha ! maafin gue !” dengan berlinang air mata dengan penuh perasaan bersalah vico memeluk ocha , namun tiba-tiba ocha melepaskan pelukan vico
“ini gak bener co, sumpah ini bikin gue gila lo tau gak ? gue sayang sama lo , sayang banget ! tapi gue sayang sama lo udah kayak kakak gue sendiri co, gak lebih dari tu lo ngerti?”
“maafin gue co maaf ... maafin kebodohan perasaan gue, kegilaan rasa gue yang gak mungkn bisa lo terima dan maafin keegoisan perasaan gue yang Cuma pengen lo hanya punya gue, tanpa harus ada cowo-cowo bangs*t itu dalam hidup lo, maaf karena selama ini gue udah selalu ngehasut hubungan lo, gue sabotase semuanya biar hubungan lo selalu bermasalah, maafin gue cha maaf” vico mencertakan kejujurannya dengan berlinang air mata
“jadi ,,, selama ini yang gue gak ngerti kenapa hubungan gue selalu bermasalah itu ... karna lo co? Sahabat yang udah gue anggep sodara sendiri? Tega lo co tega ! bangs*t lo !” bentak ocha dengan kemarahan puncaknya
“gak apa-apa cha elo mau sebut gue apa , gue tau gue salah .. maafin gue cha” vico yang memohon terduduk lemas didepan ocha
“pergi lo co ! pergi lo ! gue gak mau liat muka lo lagi ! jahat lo co sama gue ! gue yang selama ini setres sampai hampir gila gara-gara ulah lo ... “ ocha berjalan meninggalkan vico memasuki kamarnya dan dikuncinya pintu kamar dengan mengabaikan panggilan vico berulang-ulang kali sambil menggedor-gedor pintu kamar ocha tiada henti.
Keesokan harinya ocha mendapatkan sebuah surat yang ditipkannya kepada bik ijah pembantu dirumah ocha


“dear my bestiest ocha
maafin gue ya cha , mungkin bagi lo saat ini gue gak mungkin termaafkan, tapi gue nyesel cha, gue gak pakai logika dan akal sehat selama ini, maafin ketololan gue ocha gue mohon ...
gak apa-apa elo ga mau lihat gue lagi cha, karena itu kemauan lo maka gue mutusin buat pindah ke ausi tempat oma dari nyokab gue, gue bakalan menetap disana selamanya cha ,
 gak usah kerumah gue ya cha, karna waktu elo terima surat ini gue pasti udah berangkat, gue tinggalin satu jacket favorite gue biar lo selalu inget sama gue, trimakasih ocha karan lo udah nunjukin gimana indahnya persahabatan yang luar biasa, trimakasih atas semua kasih sayang lo, kepedulian lo selama ini ke gue , trimakasih ocha ...
jangan pernah lupain gue ya, gue sayang sama lo cha .
wish u all happiness cha J
                                                                                                                                                                vico fransischca
Dengan berlinang air mata sampai menangis tersengal-sengal ocha membaca surat vico, merasa bersalah, menyesal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.
ocha hanya menatap surat itu berjam-jam sambil menangis, dan berusaha untuk tegar dan bangkit, dan berharap semua akan baik-baik aja setelah ini.

NGOOMONGIN SI JOMBLO

                                             
Jaman sekarang Gue sering denger orang-orang yang berstatus single alias jomblo mempredikatkan dirinya sebagai jomblo elit, yang mungkin kalo menurut pendapat gue pribadi sih jomblo mahalan kali yah ...
entah itu dalam artian harga jualnya yang mahalnya mulai ngalahin harga cabe yang semakin melambung? atau bahkan terong ? entah !
Mulai dari sosmed dan bahkan di tempat-tempat tongkrongan anak-anak muda, yang jomblo exactly, sering banget sepertinya kata-kata itu disandang-sandang
ada joblo elit ada juga jomblo ngenes ....
dan yang masih bikin gue gak paham sampek sekarang apa yang sebenernya membuat dua kata ini mendapat anggota penyandang ?
apakah yang disebut jomblo elit itu yang malem mingguannya masi bisa ngegandeng cabe-cabean atau bahkan bawang-bawangan? terasi-terasian ?
nampaknya jomblo yang satu ini hobby masak !! gak gituh juga sih yah.
atau yang jomblo ngenes yang malem mngguannya ngelonin shower dikamarmandi , atau nangis tersengal-sengal sambil nonton mahabrata ? oh men ! *jedotinkepala*
Yaaa ... well mungkin itu adalah salah satu jenis metode para jomblo untuk  sekedar menghibur diri atau hanya saja untuk menjaga pamor supaya tidak terlalu terlihat anjlok reputasinya didepan temen-temennya , dan sebagai salah satu cara untuk tetap pemertahankan harga dirinya.
lagipula jomblo itu bukan aib kok, bukan juga musibah, apalagi kutukan ... bukan !
lebih tepatnya sih bisa dibilang sebagai adzab .... haha
oke deh stop ngeledekin jomblo ... yang kebetulan itu status yang gue juga sedang menyandangnya saat ini *tear*



 
 Stay cool mblo ... :D
anyway tuhan menakdirkan kita dengan alur hidup itu bukan tanpa sebab dan akibat loh, pasti bakalan selalu ada hikmah dan faedahnya dari semua yang telah digariskannya, karena mungkin dengan status kejombloan lo, elo bisa lebih belajar sabar, belajar lebih mendewasakan diri dengan situasi, lebih bisa berdamai dengan yang namanya “kesepian”, dan yang pasti lo bisa lebih mempersiapkan diri elo buat jodoh lo yang masi dipending  sama tuhan .
pernah denger kan ! “wanita yang baik untuk laki-laki yang baik” dan sebaliknya .
jadi gak ada salahnya dong selalu dan selalu mencoba buat memperbaiki kualitas diri yang pasti baik buat lo, orang-orang disekitar lo dan yang pasti jodoh masa depan lo :D
tuhan hanya menunggu waktu yang tepat dan hati elo yang siap untuk merubah alur hidup lo dan menghapuskan adzab kejombloan lo !
So ... gak usah takut buat menyandang status kejombloan lo ... enjoy ur life, enjoyin status kejombloan lo, sebelum ahirnya elo bakalan dipertemukan dengan manusia dambaan hati lo dengan alur yang seindah-indahnya. Percaya kan happy ending itu ada ?
kalo ga percaya coba liat kuburan alm.nenek kakek lo yang udah gak ada ... it’s must be not easy to survive their relationship dulunya .. tapi maha besar tuhan lo yang tetap menjaga kesucian hubungan mereka sampai ke liang lahat .
dahsyat !! :D
*TUTUP*
Get Gifs at CodemySpace.com