Minggu, 02 September 2012

satu satunya cinta


"pimmmpimmmm.....!!" aku tersentak kaget mendengar bunyi kelakson motor yang terdengar sangat nyaring ditelingaku dan membuatku terbangun dari tidur pulasku, ku buka jendela kamarku yang terletak dilantai dua rumahku, kulihat sosok laki-laki berwajah oriental cukup tampan menatapku dengan pandangan kesal.
                "woyy....!! lo baru bangun? cepetan..!! gue tinggal juga nih" dia berteriak kesal kepadaku yang saat itu masih dalam keadaan setengah mengantuk dan langsung buru-buru lari ke dalam kamar mandi.
dia rudi sahabatku dari kecil, kami selalu bersama bahkan selalu memasuki sekolah yang sama, orang tua kami bersahabat sejak mereka masih berada di SMA.
ku lihat jam dinding kamarku telah menunjukkan pukul 07.30 dengan buru-buru tanpa terlebih dulu menyatntap sarapan dimeja makan, ku turuni tangga rumahku untuk menghampiri rudi dengan harapan rudi masih ada didepan untuk menungguku,
                "maaf di gue kesiangan" kataku sambil menaiki motor vixion rudi
                "gak kaget..."rudi menyalahkan mesin motornya dan mulai tancap gas dengan kecepatan tinggi dan menuju kesekolah.
aku memang selalu bangun kesiangan dan rudi selalu setia menjemput dan menungguku, dan tidak jarang kami dihukum bersama karena kesalahanku telat datang kesekolah, tapi rudi tidak pernah kesal atau membenciku karena itu, dia selalu hanya tertawa dan menganggap hukuman-hukuman itu sebagai bonus untuk tidak mengikuti pelajaran, sesuatu yang sangat tidak dia sukai, tetapi aku bingung, kenapa sejak SD sampai sekarang nilainya selalu lebih tinggi jauh diatas ku? Padahal siang malam aku belajar dengan rajin dengan niat ingin unggul darinya sekali saja,tapi itu sia-sia, mungkin dia memang telah menuruni bakat jenius papanya *pendapatku, papa ku pernah bilang dulu di SMA papa rudi adalah seorang siswa yang sangat pandai yang selalu mendapatkan peringkat pertama dan predikat juara umum setiap tahunnya, dan selalu meraih juara dalam olimpiade sainse antar nasional yang diadakan setiap tahunnya, “jadi wajar kalau rudi anaknya begitu jenius walau tanpa belajar” kata papa.
                                       
                "hay rudi... dateng ya ke ultah gue nanti malem jam 08.00, nih undangannya" rena menyodorkan udangan kecil yang terlihat lucu dan terkesan berkelas itu ke rudi yang saat itu sedang duduk berdua denganku di meja kantin
tidak lama setelah rena berjalan meninggalkan kami, rudi pun membuang undangan itu ketempat sampah yang terletak tidak jauh dari tempat duduk kami
                "loh kenapa dibuang?" tanyaku heran
                "males ah.. gue diundang sementara elo engga, buat apa gue dateng, ya gak?" rudi menjawab dengan santai sambil menyedot sisa es nya
                "ha?? so sweet banget lo sama gue di? hahaha," ledekku "tapi rena kan cantik, semua cowo disekolah suka sama dia dan pasti berharap diundang juga ke ultahnya, dan kalo gue perhatiin sih kayaknya dia suka deh sama elo di"
                "terus..? gue harus bilang WOW ? gituh?" jawab rudi jutek lalu menarik tanganku untuk segera menuju ke kelas
                "yeeeee..... masa sih elo gak naksir juga sama dia" ku ledek rudi dengan mencubit tangan kirinya
                "aduh... sakit steffy " rudi mengusap-usap tangannya yang baru saja aku cubit dengan kencang "ya engga lah dia tuh bukan type gue banget" kata rudi dengan raut muka juteknya
                “ah masa? Malu aja kali elo ngakuinnya, huuuu…..” ku ledek lagi lalu ku tinggalkan rudi dan berlari masuk ke kelas.

Sore yang cerah dihari minggu yang indah, seperti biasa aku dan rudi selalu menghabiskan
minggu sore di taman favorit kami sejak kecil, tidak jauh dari sekolah dan rumah kami., walau hanya sekedar duduk bercanda sambil makan ice cream favorit kami, rudi vanilla dan aku cokelat.
                “ih biasa deh kaya anak bocah aja lo” kemudian di elapnya sisa-sisa ice cream di bawah-bawah bibirku yang berantakan
                “hehe thanks ya”kataku dengan tersenyum kepada rudi “emm.. di?”
                “iya ?” rudi menoleh padaku dengan senyuman khasnya yang akan membuat semua wanita meleleh ketika melihatnya
                “kalo gue perhatiin selama ini, kok elo jomblo terus yah? Elo emang lagi gak mau pacaran atau?”
                “atau apa? Guy?” jangan sembarangan lo” rudi menjewer kupingku dengan pelan
                “hehe ,, terus? Kenapa donk?, elo kemana-mana selalu sama gue, gak bosen? gak mau ngajakin cewe lain gituh? Masa elo gak punya cewe yang ditaksir atau gebetan sih? Elo kan ganteng, masa gak ada cewe yang mau sama lo?”
                “masa sih gue ganteng?” dengan sikap PEDE-nya rudi bergaya ala artis hollywood di depanku
                “kata emak lo sih gitu, tapi kalo kata gue sih engga juga ahahahaha” aku tertawa dengan puas
                “ah sialan lo, gue tuh gak kalah ganteng kali sama robert pattinson”
                “apa? Gak kalah ganteng? Beda jaauuuuuuuuuh kali mas, ahahaha” ku ledek lagi rudi sambil tertawa terbahak-bahak
                “terus aja terus”
tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan jam di tangan ku telah menunjukkan pukul 05.30 sore tapi kami tetap asyik mengobrol seakan tidak memperdulikan waktu yang telah mengisyaratkan untuk sebuah perpisahan, dan masih membicarakan hal yang sama sejak tadi dengan asyik saling melempar ledekan dan celaan.
                “ayoo donk kasih tau gue siapa gebetan elo di, gue kan sahabat lo yakan? Yakan? Yakan?”bujukku dengan merangkul tangan kanan rudi dan ku dekatkan wajah manjaku tepat di depan wajahnya yang ketika itu tampak begitu terkejut saat aku mulai begitu dekat dengannya”eh maaf.. kedeketan yah muka gue..” aku langsung memalingkan wajahku dengan raut muka yang sangat malu dan bersalah, dan rudi hanya tertawa.
                “elo beneran pengen tau ya stef?
                “iya lah… ayo kasih tau.. “ku tatap mata rudi yang saat itu sedang meatapku dalam.
                “gimana cara gue kasih tau elonya?”
                “emm….. ketemuin gue aja sama dia, atau…. Telphon aja , iya telphon dia sekarang di, cepettt…!!” desakku tidak sabar
                “yaudah  gue telphon dia deh, tunggu ya” rudi mengeluarkan handphon dari saku celananya dan mulai memencet-mencet mencari nomor handphon perempuan yang dia maksud itu lalu segera menelphonnya
                * tiba-tiba terdengar bunyi rington handphonku berdering*
                “eh tunggu tunggu di, gue terima telphon dulu ya bentar…” ku ambil handphon yang terletak di dalam tasku, setelah beberapa detik mencari-cari karena terlalu banyak benda-benda yang aku bawa dlm tasku yang membuat handphonku terselip.
                “hallloooh?” ku jawab telphon tanpa melihat nama yang terletak dalam layar handphonku
                “hay…” terdengar suara laki-laki dengan nada lembut yang bersamaan dengan suara rudi tepat di telingaku
                “loh? Di?” ku tatap rudi dengan tatapan bingung, ku alihkan pandanganku kembali ke layar handphon, dengan perasaan kaget ku lihat nama yang tertulis jelas dalam layar handphon ku *incoming call RUDI MY BF* “jadi maksudnya cewe itu? Gue?”
                “iya? Kenapa? Kaget?”
                “jadi selama ini?”
                “iya .. selama ini cewe yang gue suka ya Cuma elo, yang gue cinta , gue sayang setengah mati sejak kita SD ya Cuma elo stef, itu sebabnya kenapa gue terus-terusan jomblo, dengan setia rela panas-panasan dijemur dilapangan karena telat dateng kesekolah ya Cuma karena gue sayang sama elo bukan karena gue gak suka belajar dikelas, itu Cuma alibi gue sebenernya.
                “tapi kenapa elo gak pernah ngungkapinnya ke gue selama ini?”
                “gue Cuma takut persahabatan kita hancur, dan gue akan kehilangan elo buat selamanya, gue nggak mau semua itu terjadi, makanya gue lebih memilih Cuma memendam semua perasaan gue ini ke elo.
                “terus sekarang? Kenapa elo berani?”
                “karena elo ngedesek gue terus dari tadi, dan kayaknya gue gak bisa terlalu lama lagi buat memendam semua perasaan gue ini ke elo stef, gue sayang banget sama lo, elo adalah satu-satunya cinta gue, cinta pertama, dan gue harap elo juga bakal jadi cinta terahir gue.
                “emm… gituh, terus ? apa yang lo harepin sekarang?”
                “terserah lo… tapi gue harep elo bisa jawab semuanya sekarang”
                “gue harus jawab apa?” ku tatap lagi mata rudi yang saat itu sedang mematapku sayu
                “jawab aja yang jujur, anything.. gue siap” rudi tersenyum dan membuatnya tampak begitu tampan. Tanpa sepatah katapun, tanpa permisi dan tanpa perasaan malu atau bersalah, ku cium bibir rudi dengan lembut dan hangat, rudi terkaget tapi aku tetap tenang dan terus melanjutkannya di temani suasana taman yang sepi karena waktu telah menunjukkan pukul 06.00 sore dan orang-orang yang lalu lalang tadi telah beranjak pulang, dan hanya tinggal penjual makanan, mainan dan ice cream yang ada disana yang terletak jauh dari tempat dimana aku dan rudi terduduk dan menikmati kebersamaan kami saat ini, rudi tidak membalas ciumanku, dan masih dengan tatapan kagetnya,
setelah beberapa menit berlalu aku pun melepaskan ciumanku dan mulai mengelap bekas lipstik yang belepetan di sekitar bibrku, rudi pun sama.
heningnya sore yang mulai berganti gelap ditambah kami berdua dengan tatapan kosong ke depan tanpa berbicara, dan rudi memulai untuk mulai memancing pembicaraan dengan ku
                “emm… udah malem, pulang aja yuk sayang…” *deg….* Detak jantungku seakan berhenti untuk beberapa detik ketika kata itu keluar dari mulut rudi, sahabat karib sekaligus laki-laki yang memang telah aku suka sejak dulu, aku tidak tahu kapan aku mulai menyukainya, sama seperti dia, dialah satu-satunya cinta untukku sejak saat itu, dan harapanku pun sama semoga dialah cinta terahirku.

Sabtu, 01 September 2012

belajar tentang cinta



belajar,,,, setiap hari kita melakukan sasuatu yang kita sebut belajar, dari mulai kita dilahirkan didunia ini sampai ahirnya kembali kerahamat tuhan nanti, kita akan selalu melakukan suatu pembelajaran, entah pembelajaran hidup dan sebagainya,, dari mulai kita terlahir kita telah melakukan suatu pembelajaran,
bayi tidak akan pernah bisa berbicara ahirnya tanpa terlebih dahulu belajar  bagaimana caranya berbicara dengan menirukan orang dewasa.
disekolah kita belajar, dididik untuk menjadi anak-anak hebat penerus bangsa kelak, di rumah kita belajr bagaimana menjadi anak yang baik dan berbakti kepada kedua orang tua,
di lingkungan masyarakat kita belajar menjadi warga negara yang baik dan benar dalam berperilaku serta mematuhi semua norma-norma yang ada,
dan ketika remaja kita akan belajar tentang apa itu cinta, cinta? iya cinta, cinta dan segala kendahan serta kepahitannya.
ketika cinta hadir dalam hidup seseorang, maka semuanya akan terasa berbeda, hari-hari seakan menjadi lebih berwarna, lebih berarti, dan terarah.
kita selalu ingin menjadi dan terlihat sempurna didepan dia yang kita cintai, entah apa saja yang  buruk padanya akan tetap terlihat sempurna bagi kita yang mencintainya,
dan keindahan serta kebahagiaan dalam cinta yang paling sempurna adalah ketika dia yang kita cintai mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang kita rasakan,oh... betapa bahagianya...
namun mimpi yang indah itu akan tiba-tiba berubah menjadi suatu sayatan benda tumpul nan berkarat yang panjang menggores-gores hati sampai tak tersisa ketika semua keindahan cinta itu musnah dan berujung dengan perpisahan.
perpisahan dalam percintaan itu akan terasa wajar bila kedua belah pihak sama-sama tidak saling mencintai lagi, namun siapa sangka jika kesucian cinta harus ternoda dengan sebuah penghiatanatan; sakit, hancur, dan tidak sedikit mereka yang ingin mengahiri hidupnya.
maka dari itu sebelum kita mencoba mengenal apa itu cinta coba kenali diri kita terlabih dahulu, kenali betul-betul orang yang kita cintai, benarkah semua keputusan yang akan kamu ambil dengan harus menjalani hari-hari dan kehidupan baru mu dengan dia sebagai seseorang yang begitu spesial dalam hidupmu.
dan yang terpenting adalah sebelum kamu mencintai seseorang cintailah dirimu sendiri terlebih dahulu, agar ketika cinta ahirnya menyakitimu, kamu tidak akan ikut juga  menyakiti dirimu sendiri.
=> sekian...

Jumat, 31 Agustus 2012

BF or BF (boy friend or best friend)?


dari sudut taman ku lihat banyak orang lalu lalang untuk berolah raga pagi ini, kulihat jam yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 09.00 , tak terasa sudah dua jam aku menunggu duduk di bangku di sudut taman yang tidak begitu jauh dari rumahku.
dari kejauhan ku lihat seseorang dengan lari yang terengah-engah tersenyum kepadaku dan mencoba menghampiriku. sejenak menghela untuk mengambil nafas, terlihat raut wajah begitu kelelahan karena berlari, dengan keringat yang bercucuran.
                "ray... maaf yah gue telat kesininya, tadi sempat ada gangguan sedikit waktu gue mau datang kesini. elo udah nunggu berapa lama?"
                "gapapa kok sar"... aku sodorkan air mineral untuk sarah "sekitar dua jam , yuk lari lagi" ku tinggalkan sarah yang sedang menenggak air mineral aku berikan dan mulai mengejar langkah ku"
seperti biasa di minggu pagi aku dan sarah selalu memulai pagi dengan berlari berolah raga untuk sekedar menyegarkan badan dan membuang setres,
sarah adalah sahabat ku sejak SMA.
tiba-tiba sarah menghentikan langkahnya dan menepuk pudak ku dan mengajakku berhenti sejenak     "raya.. elo inget gak sama cowo yang dulu pernah gue ceritain ke elo?"
                "cowo? siapa?""
                "itu loh,, cowo yang gue suka sejak SMP, cinta pertama gue, yang namanya marcho, masa elo lupa sih?"
                "ohhh... itu"
                "inget?"
                "enggak... hahahaha “
                "ah elo.. " kesal
                "kenapa sih emangnya sama tuh cowo sar?"
                "jadi gue kemaren gak sengaja ketemu dia lagi ray, ya ampun... sekarang dia makin ganteng aja deh, gue kayaknya makin cinta sama dia ray, betapa beruntungnya gue kalo bisa bersanding dengan dia di pelaminan nanti” dengan muka penuh harapan
                “ya ampun,,, segitunya kah?”
                “iya.. gue sayang banget sama dia raya, kan dia first love gue, bahkan sampe sekarang pun gue masih gak bisa buat ngelupain dia. Kemaren tuh rasanya pengen aja gue sapa dia , tapi gue gengsi. masa cewe yang nyapa duluan"
                "terus dia nyapa elo?"
                "engga sih?"
                "hahaha lagian ngapain sih elo gengsi segala, ahirnya nyesel kan sekarang? makanya kalo cinta bertindak cepat donk, awas loh nanti gue yang embat duluan" dengan tawa dan ledekanku ku tinggalkan sarah untuk melanjutkan lari ku lagi
                "hah?? awas aja loh, berani ngembat dia dari gue" aku menengok kebelakang kulihat sarah berlari mengejar ku sambil hendak melemparkan botol kosong bekas air mineral yang telah habis ditenggaknya kepadaku
aku pun asik melanjutkan lariku dengan tertawa terbahak-bahak seakan merasa puas melihat sahabatku begitu kesal karena ledekan dariku
                “raya tunggu” ku tengok lagi sarah yan hampir menyusulku dengan raut wajah kelelahan memintaku untuk berhenti
                “baru aja lari segitu udah cape lo sar, payah” ucap ku
                “elo gak tau sih, Gue tuh udah lari dari rumah gue kesini tadi demi biar elo gak marah gara-gara nungguin gue, huhh” di pukulnya dengan pelan botol kosong bekas air mineral di atas kepalaku
                “hahaha iya-iya deh” dengan ku balas pukulan sarah menggunakan handuk yang aku pegangi sejak tadi
                “eh ray.. kayak nya kita udah lama banget yah ngejomblo?” ucap sarah sambil membuang botol bekas air mineralnya
                “terus kenapa? Gue fine-fine aja tuh jadi jomblo, bahagia malah, soalnya gak ada yang kepoin hidup gue lagi haha” jawabku dengan mencoba menutupi isi hatiku yang sebenarnya sangat merindukan hadirnya cinta dalam hidupku
                “ah masa? Jangan muna deh lo, gue aja bosen ngejomblo terus-terusan” dicubitnya pipi kiriku dengan pelan “emm… gimana kalo kita taruhan , siapa diantara kita yang lebih dulu dapet cowo dia yg menang”
                “hah? terus hadiahnya apa?”
                “terserah… yang menang berhak meminta apapun dari yang kalah, gimana? Berani gak elo ray?”tantang sarah dengan nada sombongnya
                “berani dong… siapa takut” jawabku dengan tidak kalah sombong
                “oke kalo gitu kita deal ya?” dengan semangat sarah melanjutkan lari nya dengan perasaan begitu yakin dialah yang akan memenangkan taruhan itu.
                                                                                                ***
 tidak ada yang spesial dengan kehidupanku, setiap hari berangkat dan pulang kuliah rumahku selalu sepi bahkan hari minggu pun tetap sama karena kedua orang tua ku yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka,
                "sarah..." panggil ku di telephon
                "iya ray? kenapa?"
                "elo diamana? jalan yuk.. bete nih"
                "jalan? sekarang?" jawab sarah ragu
                "iya sekarang.. kenapa? elo gak bisa yah?"
                "emm... gimana yah? oke deh tapi elo jemput gue yah. mobil gue lagi dipinjem sama nyokab ray"
                "gampang.. yaudah gue siap-siap dulu ya sar, daaahh…."
                "daaahh..." mematikan telephon
aku dan sarah pergi ke cafe yang biasa kita datangi, disini kita selalu menghabiskan wakut bersama, untuk mencari hiburan dan sekedar untuk melepas lelah setelah shopping seharian.
sesaat setelah aku menduduki slah satu kursi di cafe itu tiba-tiba aku teringat bahwa handphon ku masih tertinggal di mobil
                "sar bentar yah.. gue balik ke mobil dulu handphon gue ketinggalan nih" sambil ku rogoh kunci mobil yang ada di dalam tas
                "yaudah, jangan lama-lama ya"
                "iya" lalu ku tinggalkan sarah untuk segera menuju parkiran tempat mobilku berada
sesaat setelah aku telah menggenggam handphonku dan berniat untuk kembali ke dalam cafe tak sengaja ku lihat seorang pria berwajah tampan berpenampilan keren dengan kemeja, dasi dan jasnya yang begitu rapi baru saja menuruni mobilnya, sekilas melihat semua orang pun akan segera mengetahui kalau dia adalah pengusaha muda tampan dan mapan.
aku tertegun melihatnya seakan terpukau oleh pesona dan ketampanannya,
                "ya tuhan... tampan sekali " aku tersadar dan teringat akan tantangan yang sarah berikan tadi pagi lalu ku coba memutar fikiran agar dapat berkenalan dengannya “ini sih sambil menyelam minum air namanya.. thanks god” kataku
lalu aku berencana berpura-pura kehilangan dompet dan meminta dia untuk menolongku mencarikannya,  jaman sekarang cowo gentle itu tidak akan segan-segan untuk mengulurkan tangannya. pendapatku.
aku bercermin di kaca spion mobilku sebentar untuk memastikan wajahku masih dalam keadaan cantik, dan mulai menjalankan rencanaku.
                "aduhh.... dimana yaah?” sengaja ku keraskan suara ku dan berjalan dekat kearahnya "kok bisa ilang sih" aku berpura-pura mencari-cari tahu di bawah kolong-kolong mobil
                "maaf, ada yang bisa saya bantu?" pria itu menghampiriku dengan senyuman hangat, betapa senang rasanya saat rencanaku berjalan sesuai keinginanku
                "emm.... aku lagi nyari dompet aku yang jatuh kayaknya sih jatuh disekitar sini, emm… kamu lihat gak?" jawabku dengan memasang muka memelas.
                "umm.. aku baru aja dateng dan baru mau masuk ke cafe jadi gak lihat tuh, tapi aku bantu cari ya" pria itu pun berjalan menyusuri area parkir dan terus mencoba mencari dompet yang sebenarnya tidak benar-benar hilang itu.
dia kembali kearahku dengan wajah penuh sesal,
                "gak ketemu ya mas?" tanya ku dengan muka berharap
                "enggak , maaf yah"
                "heemm... gak papa deh , makasih yah mas udah mau bantuin aku" kuberi dia senyuman ku yang paling manis
                " iya sama-sama , tapi jangan panggil mas donk, emang nya mas-mas tukang bakso" kita pun tertawa bersama
                "terus aku harus panggil apa dong?"
                "panggil aja marcho, nama kamu?" marcho menyodorkan tangannya
                "aku raya," ku sambut tangannya dengan jabatan hangat tanganku "emm,,, sekali lagi trimakasih ya marcho udah bantuin aku tadi, gimana kalo aku traktir kamu makan?"
                "eh gak usah, aku iklas ko bantuin raya, lagian juga kan dompetnya ilang? Mau traktir pake apa?"
                "aduhhh… “ aku terkaget “ iya juga sih, ahh dasar bodoh” *dalam hati
“emm… maksudnya besok, hehe iya besok ,gak papa kan? ,mau donk, mau yah please..." aku memohon dengan muka manja
                "emm ,, oke deh … tapi kayaknya aku harus pergi sekarang nih ray” melihat jam ditangannya  “soalnya lagi ada janji sama client  sebentar lagi"
“yaudah kalo gituh, besok kita ketemu jam berapa? Dimana kamu mau nya?
“disini aja yah. jam 03.00 sore, gimna? ini kartu nama aku nanti kamu miscall nomer hp kamu yah soalnya aku lagi buru-buru sekarang, takut client aku udah nunggu lama" dilihatnya lagi jam ditangannya
                "okehh " ku lihatnya pergi bergegas memasuki mobilnya untuk segera menemui clientnya,
fikirku "mnegapa dia datang kesini tetapi menemui clientnya di tempat lain?
Emm..  Mungkin saja dia hanya berniat untuk makan siang diisini tapi aku telah merusak jam makan siangnya dengan membuat dia membantuku mencari dompet yang sebenarnya tidak benar-benar hilang itu,
ah... tapi siapa peduli, yang penting aku bisa berkenalan dan berhasil membuat pertemuan kedua dengannya, sedikit langkah lagi aku telah memenangkan taruhan ku dengan sarah, haha senangnya…”
tak lama baru ku ingat sarah yang masih berada di dalam cafe,
bergegas aku berlari memasuki cafe memastikan sarah tidak pulang meninggalkanku dan marah karena ku tinggalkan begitu lama duduk di dalam cafe sendirian.
"sar ... maaf yah gue lama, elo gak marah kan sar?"tanyaku khawatir
"kemana aja sih lo ray?, enggak kok ngapain juga gue marah sama lo, cuman gue bete aja, lo
tinggal sendiri, udah kayak kambing conge gue duduk disini sendirian" sambil terus menyedot sisa jus alpukatnya yang hampir habis
"iya maaf ,, tadi ada masalah sedikit tapi sekarang semua udah beres kok" aku sengaja tidak
menceritakan soal pertemuanku dengan marcho, karena aku tidak ingin sarah mencoba menyusul langkahku untuk memenangkan taruhannya.
                                 ***



Saat memasuki café Kulihat pria berparas tampan sedang duduk sendiri di meja paling ujung, sekilas aku pun dapat mengenalinya, dan ku hampiri untuk duduk satu meja dengannya.
                “hey… udah lama?” tanyaku dengan ramah
                “ehh raya, engga kok, baru aja “
                “emm…. Bagus deh kalo gituh , kamu mau pesen apa?”
                “kita langsung makan? Ga ngobrol-ngobrol dulu aja?”
                “ngobrolin apaan?” tiba-tiba jantungku berdegup kencang, saat ku tatap matanya ku rasa ada sesuatu yang berbeda. Entah apa.
                “apa aja, kan kemarin kita ga sempet ngobrol banyak”marcho tersenyum manis.
                ya tuhan,, senyumannya semakin membuat jantungku berdebar-debar,
kami pun mengobrol dengan asiknya, dan marcho menceritakan semua tentang keluarganya, teman-temannya dan semua kisah cintanya sebelumnya, seakan telah lama mengenal diriku, tanpa ragu, tanpa takut dia telah membagi semua keluh kesahnya selama ini kepadaku yang baru dia kenal.
Dan sejak pertemuan kedua kami itu kami berdua menjadi semakin dekat, semakin sering bertemu, dan membuatku lupa soal taruhan ku dengan sarah dan mulai menikmati kedekatan ku dengan marcho.
sampai suatu ketika marcho mengungkapkan semua perasaannya kepadaku, dan akupun tidak mampu untuk menolak cintanya karena aku sangat mengaagumi dia sekarang dan benar-benar ingin menjadi seseorang yang pantas disisihnya.

                “sekarang elo harus lakuin apa yang gue mau sar” teriakku dari belakang sambil berlari
menghampiri sarah yang baru saja memasuki lorong kampus,
                “ha?? Maksud lo?” sara menengok dengan muka kebingungan
                “gue baru jadian donk. Hihihi” ku pasang muka berseri-seri dengan setengah meledek
                “aaa… sama siapa? Curang lo ga bilang-bilang kalo lagi pedekatean, gue kira elo udah lupa sama taruahan kita” jawab sarah dengan muka kesal dan kecewa
                “ahahaha iya-iya sorry, kan gue bergerak cepat dan sembunyi-sembunyi biar gak ketahuan sama tentara sekutu” candaku
                “ahh nyebelin lo, elo kira pejuang proklamasi apa?” sarah cemberut
                “iya-iya cup cup cup.. jangan cemberut  gitu donk sayang,, kan aku udah menang, seharusnya kamu sebagai sahabatku juga turut bahagia, ya gak?” kucubit pipi sarah sambil setengah tertawa.
                “yaudah, kenalin dulu gue sama cowo lo baru gue percaya”
                “oke., siapa takut, nanti dia jemput gue kok.”
                “yaudah, awas lo kalo bohong” kami pun memasuki kelas dan memulai pelajaran yang sangat membosankan
Ahirnya semua mata kuliah hari ini pun usai, ku lihat jam di handphon ku masih menunjukkan pukul 03.00 sore,tetapi sosok marcho masih belum terlihat.
                “woy… mana cowo lo?” sarah memukul pundakku dan membuatku terkaget
                “aduhh…. Kaget gue sar, biasa aja donk, jangan sirik gituh” ku ledek sarah sambil tertawa
                “huu…. Siapa juga yang sirik, mana? Jadi jemput gak sih dia?
                “iya sabar.. gue yang mau dijemput kok elo yang gelisah”
                “hehe kan gue Cuma mau memastikan, elo beneran apa engga”
                “ya bener lah.. sejak kapan gue suka ngarang-ngarang cerita sarah?” dengan muka setengah kesal

                “RAYA…” terdengar seseoarng berteriak memanggil namaku
                “nah itu dia pacar gue, ganteng banget kan?” ku tunjuk seoarng pria tampan berdiri tepat didepan mobil sport merah.
raut wajah sarah yang tadinya kesal dan penasaran berubah menjadi sangat bersedih, hancur dan putus asa
                “ i,,itu pacar lo?”
                “iya, marcho namanya, kenapa sar? Kok kaget? Ganteng banget ya? Jangan bilang elo naksir juga” ledekku tanpa menyadari perasaan sedih di muka sahabatku itu
                “eng… engga , gak papa , selamet ya… gue duluan kalo gituh , daaah..” dengan bergegas sarah langsung pergi dan menghapus air matanya tanpa terlihat sedikitpun olehku dan aku berjalan menghampiri marcho
                “itu tadi siapa sayang? Temen kamu?”
                “iya, dia sahabat baik aku yang,. Kenapa?
                “kayaknya aku pernah ketemu” marcho membukakan pintu mobilnya untukku
                “ketemu? Dimana ?”
                “ohh iya … dia itu adek kelas aku waktu SMP sayang, dulu salah satu temen dia dikelas pernah ada yang bilang sama aku kalau dia suka sama aku yang,, tapi aku sih gak percaya,” marcho mulai menjalankan mobilnya.
aku termenung sebentar, *dlm hati “SMP? Apa dia marcho yang selama ini sarah maksud? First love dia? Ya tuhan… gue udah ngehancurin hati sahabat baik gue,” aku menangis sejadinya
                “sayang.. kamu kenapa?” marcho dengan kaget langsung menghentikan mobilnya “apa kamu sakit? Yang.. jawab donk” tanya marcho dengan begitu khawatir
aku tetap terdiam dan menangis tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian marcho memelukku, dan meletakkan kepalaku dipundaknya, dielusnya rambutku dengan halus dan penuh cinta,
                “sayang…. Kamu kalo ada apa-apa cerita sama aku, aku ini pacar kamu, tenang aja kamu gak usah takut” kata-kata marcho membuat ku sedikit tenang dan mampu berhenti menangis
                “emm… aku mau nanya sama kamu, tapi kamu jangan marah ya? Kamu jawab yang jujur”
                “iya, kamu mau tanya apa yang?”
                “kalo aku suruh kamu pacaran sama cewe lain? kamu mau?” tanyaku dengan hati yang sangat tidak rela, ingin rasanya ku tampar mukaku saat berkata seperti itu.
                “maksud kamu? Kamu mau kita putus? Gak sayang lagi sama aku?” tanya marcho dengan sangat kecewa
                “engga sayang bukan gituh, kamu tahu? Sarah, sahabat aku yang kamu lihat tadi, dia sayang dan cinta banget sama kamu, kamu itu first love dia. sampe sekarang pun dia masih sangat sayang sama kamu marcho, dan aku baru menyadari semuanya itu sekarang!!” jawabku dengan kembali meneteskan air mata.
                “terus ? mentang-mentang dia sahabat kamu terus kamu suruh aku ngorbanin perasaan aku dan kamu demi dia,? Gituh?” tanya marcho dengan nada marah
                “terus aku harus gimana sekarang cho? aku sayang banget sama kalian berdua, dan sedikit pun aku gak mau nyakitin hati siapapun terutama kalian” marcho kembali memelukku dengan lebih erat
                “aku gak akan jadi pacar siapapun setelah kamu, aku janji. Jadi terserah kamu mau kita tetep sama-sama atau ngelihat aku bakalan sendiri selamanya, mungkin aku memang bukan ditakdirkan untuk sahabat kamu”.
                                        ***

Pagi ini aku sengaja berangkat sendiri kekampus tanpa marcho, ku coba menemui sarah setelah lima hari aku bolos kuliah hanya untuk memikirkan jalan keluar dari semua ini.
                “sarah..” ku panggil sarah yang tengah menyedot jus alpukatnya di meja kantin
                “eh,, kemana aja lo ray? Gue kira sakit, telephon gue juga gak pernah lo angkat?, jadi gimana taruhan kita? Hemm… gue siap deh disuruh apa aja sama elo ray” sarah bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi aku tahu apa yang sebenarnya dia sembunyikan dibalik senyumannya itu.
                “sar… maafin gue ya?”
                “eh? Maafin kenapa ray?” sarah bertanya bingung
                “marcho,,, gue baru tau sar kalo ternyata dia itu cowo yg elo maksud selama ini”
                “oh itu” sarah meneteskan air matanya yang telah ia tahan sejak tadi “gak papa kok ray, mungkin marcho emang bukan buat gue, elo tolong jangan pernah sakitin dia ya, demi gue” sarah menangis sejadi-jadinya
                “sarah .. maafin gue,” aku pun menangis dan ku peluk tubuh sarah ” elo boleh kok nyuruh gue buat ninggalin dia, atau comblangin dia buat elo,terserah.. elo itu sahabat gue, apapun milik gue elo juga bisa milikin kok”
                “enggak ray,, gak semua milik lo, dan gue udah belajar buat iklasin dia sekarang, gue percaya tuhan itu maha adil dan dia pasti akan mempertemukan gue dengan orang yang lebih baik dari marcho dan yang pantas buat gue, elo gak perlu ngorbanin apapun raya, gue bahagia kok kalo elo juga bahagia, dan gue gak bakalan bisa bahagia kalo gue harus tertawa saat sahabat terbaik gue menderita, okeh…” dihapusnya sairmata dipipiku. Kemudan kupeluk sarah dengan erat seakan tidak mau melepaskannya.
                “makasih sarah.. gue sayang banget sama lo, dan gue sangat bersyukur tuhan udah ngasih sahabat sesempurna elo buat gue”
                “iya raya, gue juga”
Persahabatanku dan sarah masih tetap utuh dan hubungan ku dengan marcho pun semakin erat,
                “terima kasih tuhan, di kala aku tidak punya orang tua yang selalu ada untukku dan seakan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka lagi, engkau menurunkan dua malaikat sempurna yang memberikan seluruh warna terindah dalam kehidupanku yang menjadi terasa begitu indah kini.”
Get Gifs at CodemySpace.com